Example 728x250
SPORT

Pencak Silat Masuk Sekolah, IPSI Karawang Soroti Kualitas Pelatih

×

Pencak Silat Masuk Sekolah, IPSI Karawang Soroti Kualitas Pelatih

Sebarkan artikel ini
Kegiatan Kuliah Silat di Padepokan IPSI Kabupaten Karawang

POV KARAWANG — Kemampuan melakukan tendangan, pukulan, tangkisan atau jurus tidak lagi cukup untuk seorang pelatih pencak silat yang mengajar di lingkungan sekolah.

Pelatih juga dituntut memahami cara mengajar, karakter peserta didik, penyusunan program latihan, evaluasi hingga aspek keselamatan anak.

Example 728x250

Perubahan kebutuhan itu menjadi perhatian Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Karawang. Ketua IPSI Kabupaten Karawang, Dea Eka Rizaldi, SH, menilai kualitas pelatih harus berkembang seiring semakin terbukanya ruang pencak silat dalam pendidikan.

“Pelatih pencak silat di lingkungan pendidikan tidak cukup hanya bisa melakukan teknik. Ia juga harus memahami bagaimana mengajarkan teknik tersebut kepada peserta didik dengan metode yang tepat, aman, dan sesuai dengan tahapan perkembangan anak,” ujar Dea.

Menurutnya, kemampuan bersilat dan kemampuan mengajarkan pencak silat merupakan dua kompetensi yang berbeda.

Seorang pesilat bisa saja menguasai teknik dengan baik. Namun ketika berhadapan dengan siswa sekolah, ia harus mampu menerjemahkan kemampuan tersebut menjadi materi pembelajaran yang dapat dipahami anak.

Persoalannya bukan hanya bagaimana sebuah gerakan dilakukan, tetapi bagaimana gerakan itu diperkenalkan, dilatih dan dievaluasi sesuai usia serta kemampuan peserta didik.

Eskul Silat di salah satu sekolah di Karawang

Arah Baru Pembinaan Pencak Silat di Sekolah

Kebutuhan tersebut semakin relevan dengan kebijakan pemerintah yang memberikan ruang bagi kegiatan pencak silat dalam lingkungan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT).

Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2026 tentang Percepatan Peningkatan Mutu melalui Program Sekolah Nasional Terintegrasi menjadi salah satu dasar pengembangan program SNT.

Dalam konteks ini, pencak silat tidak cukup dipandang sebagai aktivitas olahraga tambahan. Ketika ditempatkan di lingkungan sekolah, proses pembinaannya bersentuhan langsung dengan dunia pendidikan.

Artinya, orang yang mengajarkan pencak silat kepada siswa juga berhadapan dengan persoalan yang lebih kompleks dibanding sekadar latihan teknik.

Ada perbedaan usia, kemampuan fisik, karakter, tingkat pemahaman dan kebutuhan masing-masing peserta didik.

Pelatih juga harus memastikan latihan tidak justru menjadi sumber risiko cedera atau tekanan bagi anak.

Karena itu, kompetensi pedagogik menjadi bagian yang tidak bisa diabaikan.

IPSI Karawang Sudah Memulainya

Jauh sebelum isu tersebut semakin mengemuka, IPSI Kabupaten Karawang telah mengembangkan program “Kuliah Pencak Silat” yang salah satu fokusnya adalah meningkatkan kapasitas guru dan pelatih.

Materi yang diberikan tidak berhenti pada teknik pencak silat.

Program tersebut mencakup strategi pembelajaran, model pembelajaran, pengembangan media pembelajaran, evaluasi pembelajaran, penyusunan program latihan, anatomi dan biomekanika hingga analisis jurus tunggal, beregu dan ganda.

Peserta juga mendapatkan sertifikat instruksional setelah mengikuti program.

Bagi Dea, pendekatan tersebut diperlukan karena pelatih yang bekerja di lingkungan pendidikan harus memiliki perspektif yang berbeda.

“Kami ingin membangun pola pikir bahwa pelatih bukan sekadar orang yang mengajarkan gerakan. Pelatih juga memiliki tanggung jawab mendidik, membentuk disiplin, memberi motivasi, menjaga keselamatan dan menjadi contoh bagi peserta didik,” katanya.

Program tersebut pada dasarnya mencoba mempertemukan dua kemampuan yang selama ini kerap berjalan sendiri-sendiri: kemampuan pencak silat dan kemampuan mengajar.

Eskul Silat di SDN 2 Klari

Pesilat Hebat Belum Tentu Pengajar yang Hebat

Di sinilah persoalan kualitas pelatih menjadi penting.

Menguasai jurus tidak otomatis membuat seseorang mampu menjelaskan jurus tersebut kepada anak berusia 10 atau 12 tahun.

Begitu pula pengalaman bertanding tidak otomatis membuat seseorang memahami bagaimana menyusun pembelajaran untuk peserta didik dengan kemampuan fisik yang berbeda-beda.

Pelatih sekolah harus mampu memecah sebuah materi menjadi tahapan yang sederhana. Ia harus tahu kapan memberikan latihan dasar, kapan meningkatkan beban latihan, bagaimana memberikan koreksi dan bagaimana mengetahui apakah siswa benar-benar memahami materi.

Keselamatan juga menjadi bagian penting.

Latihan yang tepat bagi atlet belum tentu tepat bagi siswa yang baru mengenal pencak silat.

Karena itu, menurut Dea, peningkatan kapasitas pelatih harus menjadi bagian dari pembinaan pencak silat secara keseluruhan.

“Kalau kita ingin pencak silat berkembang di sekolah, maka yang harus diperkuat bukan hanya jumlah pesilatnya, tetapi juga kualitas guru dan pelatihnya. Anak-anak harus mendapatkan pengalaman belajar pencak silat yang benar sejak awal,” ujarnya.

latihan Perisai Diri di Ponpes Soleh Ma’mun 3 Purwasari

Jangan Hanya Mengejar Juara

Persoalan lain yang perlu diperhatikan adalah orientasi pembinaan.

Pencak silat di sekolah memang bisa menjadi pintu masuk menuju prestasi. Namun tidak semua siswa mengikuti latihan untuk menjadi atlet.

Sebagian mungkin hanya ingin berolahraga. Sebagian lainnya tertarik pada seni dan budaya pencak silat. Ada pula yang mendapatkan nilai kedisiplinan, keberanian dan tanggung jawab dari proses latihan.

Karena itu, pelatih sekolah memiliki peran yang lebih luas daripada pelatih yang semata-mata mempersiapkan atlet menghadapi pertandingan.

Pencak silat juga menjadi sarana pendidikan karakter.

Cara pelatih memberikan instruksi, menegur siswa, memberikan motivasi hingga memperlakukan peserta didik akan ikut membentuk pengalaman mereka terhadap pencak silat.

Jika prosesnya dilakukan dengan benar, siswa tidak hanya belajar melakukan gerakan, tetapi juga belajar disiplin, menghargai lawan, mengendalikan diri dan bertanggung jawab.

Tantangan Berikutnya Ada pada Kualitas SDM

Bagi IPSI Karawang, perkembangan pencak silat di sekolah pada akhirnya akan sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang berada di belakang proses pembinaan.

Bertambahnya ruang untuk pencak silat di sekolah harus diikuti kesiapan guru dan pelatih.

Di sinilah program Kuliah Pencak Silat menjadi relevan.

Program tersebut tidak sekadar menawarkan tambahan materi bagi pelatih, tetapi membawa gagasan bahwa profesi pelatih pencak silat membutuhkan kompetensi yang lebih lengkap.

“Seorang pelatih yang baik bukan hanya mampu menunjukkan teknik yang benar, tetapi juga harus mampu membuat peserta didik memahami, mempraktikkan dan mengambil nilai dari pencak silat yang dipelajarinya,” kata Dea.

Dengan demikian, tantangan pencak silat di sekolah bukan hanya soal berapa banyak siswa yang mampu melakukan jurus.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah siapa yang mengajarkan mereka, bagaimana cara mengajarkannya, dan nilai apa yang mereka dapatkan dari proses tersebut.

Di titik itu, pencak silat tidak lagi sekadar soal menang dan kalah di gelanggang.

Ia masuk ke ruang pendidikan—dan kualitas orang yang mengajarkannya akan ikut menentukan seperti apa generasi pesilat yang lahir dari sekolah.

error: Content is protected !!