Example 728x250
CULTURE

Dari Karawang ke Panggung Dunia, Akeyla Naraya Bawa “Flower of Java” ke Kyrgyzstan

×

Dari Karawang ke Panggung Dunia, Akeyla Naraya Bawa “Flower of Java” ke Kyrgyzstan

Sebarkan artikel ini
Foto : instargam @akeylanaraya

POV KARAWANG — Karawang selama ini lebih sering dikenal sebagai kota industri. Nama pabrik, kawasan industri, investasi dan lalu lintas kendaraan berat menjadi bagian dari keseharian daerah ini.

Namun dari kota yang identik dengan industri itu, sebuah cerita berbeda datang dari dunia fashion.

Example 728x250

Namanya Akeyla Naraya, desainer muda asal Karawang yang membawa batik Karawang ke panggung internasional melalui ajang World Nomad Games 2026 di Kyrgyzstan.

Bukan sekadar tampil, Akeyla berhasil meraih Juara 2 Kategori Urban Nomad melalui koleksi bertajuk “Flower of Java”.

Prestasi itu menjadi bagian menarik dari cerita Karawang pada 2026: ketika identitas lokal tidak berhenti sebagai motif kain, tetapi dibawa ke ruang pertemuan budaya internasional.

Flower of Java dan Cerita dari Rumah

“Flower of Java” bukan motif yang lahir tanpa cerita.

Sebelum berangkat ke Kyrgyzstan, Akeyla menjelaskan bahwa motif tersebut terinspirasi dari lingkungan tempat ia tumbuh.

Ia bercerita bahwa sejak kecil dirinya dekat dengan pepohonan karena sang ibu gemar menanam tanaman. Sementara ayahnya merupakan seorang penari.

Dua pengalaman tersebut kemudian masuk ke dalam proses kreatifnya.

Warna alam, bunga-bunga Indonesia dan unsur busana penari menjadi bagian dari gagasan yang kemudian diterjemahkan ke dalam karya fashion.

Dengan begitu, Flower of Java bukan hanya bicara tentang pakaian.

Ada memori masa kecil dan lingkungan keluarga yang ikut dibawa ke dalam desain.

Batik Karawang Tidak Ditinggalkan

Di panggung internasional itu, Akeyla tidak meninggalkan identitas daerah asalnya.

Salah satu elemen yang digunakan adalah batik Karawang, termasuk motif Ayam Ciparage yang dikenal sebagai salah satu identitas batik Karawang. Sebelum berangkat, Akeyla menyebut membawa tiga motif batik, termasuk Flower of Java.

Dalam kompetisi tersebut, koleksi Flower of Java kemudian berkembang menjadi tujuh desain.

Busana yang ditampilkan merupakan interpretasi modern dari kebaya Jawa dan kebaya Sunda, kemudian dipadukan dengan batik Karawang dan kain lurik.

Yang menarik, busana tersebut diperagakan oleh model-model asal Kyrgyzstan.

Ada pertemuan dua latar budaya di atas satu panggung: karya dari Indonesia yang dibawakan oleh model dari Asia Tengah.

Foto: instagram @nomad_fest_wng

Dari Karawang, Bertemu Dunia

World Nomad Games 2026 berlangsung di Kyrgyzstan dan mempertemukan peserta dengan latar budaya dari berbagai negara.

Koleksi Akeyla mendapat perhatian dari juri internasional yang berasal dari sejumlah negara, termasuk Rusia, Mongolia, Uzbekistan, Azerbaijan dan Kyrgyzstan.

Di titik ini, batik Karawang tidak lagi hanya berbicara kepada masyarakat lokal.

Motif dan cerita yang lahir dari lingkungan Karawang dibawa ke hadapan publik internasional.

Bagi Akeyla, pengalaman tersebut juga bukan perjalanan internasional pertamanya.

Sebelumnya ia telah beberapa kali mengikuti kegiatan di luar negeri, termasuk dua kali ke Rusia, serta kegiatan di Lebanon dan Kyrgyzstan. Produk batiknya juga disebut telah dibeli konsumen dari Rusia, Amerika Serikat hingga Inggris melalui sistem pre-order dan pameran.

Fashion yang Tidak Berhenti pada Penampilan

Ada satu hal lain yang membuat koleksi Akeyla menarik.

Flower of Java juga membawa gagasan sustainable fashion dan green fashion.

Dalam pembuatannya, limbah serta perca kain batik dimanfaatkan sebagai bagian dari detail dan elemen dekoratif. Material yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah diberi fungsi baru dalam rancangan busana.

Dengan pendekatan tersebut, fashion tidak hanya dilihat dari bagaimana sebuah pakaian tampak ketika dikenakan.

Ada cerita tentang bahan, lingkungan, budaya dan bagaimana sesuatu yang tersisa dapat kembali memiliki nilai.

Dukungan untuk Talenta Muda

Keberhasilan Akeyla mendapat perhatian dari sejumlah pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Karawang dan pihak yang terlibat dalam pengembangan budaya serta ekonomi kreatif.

Anggota DPRD Jawa Barat Pipik Taufik Ismail sebelumnya juga menyampaikan apresiasi terhadap perjalanan Akeyla dan menilai talenta muda seperti dirinya perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak.

Dukungan tersebut menjadi penting karena perjalanan menuju panggung internasional tidak berhenti pada satu kemenangan.

Yang lebih sulit adalah mempertahankan proses kreatif setelah sorotan berakhir.

Akeyla masih memiliki ruang panjang untuk mengembangkan karya, memperkenalkan batik Karawang, sekaligus membangun pasar untuk desain yang lahir dari daerahnya sendiri.

Karawang Punya Cerita Selain Industri

Prestasi Akeyla memberi sudut pandang lain tentang Karawang.

Daerah ini memang tumbuh sebagai salah satu pusat industri besar. Tetapi di balik kawasan industri dan aktivitas ekonominya, ada anak-anak muda yang mengembangkan musik, olahraga, fashion, seni, desain dan berbagai bentuk kreativitas lainnya.

Akeyla adalah salah satu contohnya.

Ia membawa sesuatu yang sangat lokal ke tempat yang sangat jauh: motif batik, cerita keluarga, pengalaman tumbuh di sekitar alam, dan identitas budaya Jawa-Sunda.

Kemudian semuanya diterjemahkan menjadi bahasa yang bisa dipahami dunia melalui fashion.

Itulah menariknya “Flower of Java”.

Ia tidak mencoba menghilangkan identitas lokal agar terlihat modern.

Justru identitas lokal tersebut yang dibawa masuk ke dalam desain modern.

Dari Karawang, karya itu kemudian sampai ke Kyrgyzstan.

Dan dari sana, cerita tentang Karawang ikut berjalan lebih jauh.

error: Content is protected !!