Example 728x250
CULTUREPOV

Lobang Buaya: Ketika Hanung Bramantyo Mengubah Rasa Takut Menjadi Horor

×

Lobang Buaya: Ketika Hanung Bramantyo Mengubah Rasa Takut Menjadi Horor

Sebarkan artikel ini

POV KARAWANG — Sejarah tidak selalu hadir melalui buku, ruang kelas, atau film dokumenter. Sutradara Hanung Bramantyo memilih jalan yang berbeda. Ia membawa salah satu periode paling kelam dalam sejarah Indonesia ke layar lebar melalui genre horor.

Film berjudul “Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah” mengambil latar tahun 1964, setahun sebelum peristiwa 30 September 1965. Film produksi Adhya Pictures dan Dapur Films ini mulai tayang serentak di bioskop Indonesia pada 1 Oktober 2026.

Example 728x250

Namun sejak awal, Hanung menegaskan bahwa film tersebut bukan film tentang peristiwa G30S atau tragedi di Sumur Lubang Buaya.

Cerita justru berangkat dari sebuah desa fiktif bernama Lobang Buaya yang diteror pembunuhan berantai. Para korban ditemukan dengan kondisi mengenaskan, sementara seorang anggota militer bernama Letnan Soegeng ditugaskan untuk mencari tahu siapa dalang di balik rangkaian pembunuhan tersebut.

Mengapa Horor?

Pilihan genre menjadi bagian paling menarik dari film ini.

Hanung tidak sekadar menggunakan hantu, kematian dan teror untuk membuat penonton takut. Ia mencoba menerjemahkan sebuah perasaan yang menurutnya muncul ketika masyarakat membicarakan periode sejarah 1965.

Dalam keterangan yang disampaikan menjelang perilisan film, Hanung mengatakan rasa yang muncul ketika mendengar peristiwa 1965 adalah horor.

Bagi Hanung, horor tersebut tidak hanya berbentuk sesuatu yang gaib. Ada ketakutan yang lahir dari kekuasaan, korupsi, ketidakadilan dan tindakan manusia terhadap manusia lainnya.

Di situlah film ini mencoba bergerak lebih jauh dari formula horor konvensional.

Hantu mungkin menakutkan.

Tetapi manusia yang menggunakan kekuasaan untuk menindas manusia lain juga bisa menjadi sumber ketakutan.

Pembunuhan Setiap Tanggal 30

Official trailer memperkenalkan sosok Letnan Soegeng yang diperankan Baskara Mahendra.

Ia mendapat tugas menyelidiki serangkaian pembunuhan yang terjadi setiap tanggal 30 di Desa Lobang Buaya.

Penyelidikan tersebut kemudian membawa Soegeng berhadapan dengan berbagai kemungkinan. Ada rumor tentang sosok “Hantu Bolong”, ketegangan di tengah masyarakat, hingga dugaan mengenai siapa sebenarnya yang berada di balik pembunuhan tersebut.

Baskara mengatakan perjalanan karakter Soegeng dibangun melalui pencarian petunjuk demi petunjuk.

Pertanyaan besarnya bukan hanya siapa pelakunya, tetapi juga siapa yang sebenarnya berdosa dalam rangkaian peristiwa tersebut.

Pertanyaan itu membuat film tidak berhenti pada misteri pembunuhan.

Ketika Sejarah Menjadi Horor

Pendekatan Hanung menarik karena film ini tidak mencoba membuat ulang sebuah peristiwa sejarah secara dokumenter.

Ia justru mengambil suasana sebuah zaman, kemudian mengolahnya menjadi cerita fiksi dengan elemen misteri dan supernatural.

International Film Festival Rotterdam bahkan menggambarkan film ini sebagai perpaduan investigasi, horor dan latar sejarah yang mengambil inspirasi dari berbagai teori seputar peristiwa 30 September 1965.

Dengan demikian, penonton perlu melihat “Lobang Buaya” sebagai karya fiksi yang menggunakan latar sejarah, bukan sebagai rekonstruksi sejarah Indonesia.

Pembedaan itu penting.

Sebab ketika sejarah yang sensitif dibawa ke dalam film fiksi, batas antara fakta sejarah, interpretasi artistik dan cerita rekaan harus tetap jelas.

Bukan Hanya Soal Hantu

Film ini juga membawa persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sosial.

Kekuasaan.

Korupsi.

Ketidakadilan.

Penindasan.

Bagi Hanung, semua itu merupakan bentuk “horor” yang tidak selalu membutuhkan sosok hantu.

Pendekatan tersebut membuat “Lobang Buaya” menjadi film yang bisa dibaca dalam dua lapisan. Lapisan pertama adalah misteri dan teror yang ditawarkan kepada penonton. Lapisan kedua adalah pertanyaan mengenai bagaimana manusia menggunakan kekuasaan dan bagaimana ketakutan dapat tumbuh di tengah masyarakat.

Dari Indonesia ke Festival Film Dunia

Sebelum diputar di bioskop Indonesia, film ini lebih dulu mendapatkan ruang di festival film internasional.

Film tersebut tercatat diputar di International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2026 dan Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) 2026.

Di Rotterdam, film ini menggunakan judul internasional “The Hole, 309 Days to the Bloodiest Tragedy” dan tercatat sebagai karya Hanung Bramantyo berdurasi 99 menit.

Kehadiran di festival internasional tersebut menunjukkan bahwa film Indonesia dengan latar sejarah dan pendekatan genre tetap memiliki ruang untuk dibaca oleh penonton di luar Indonesia.

Pertanyaan yang Dibawa Pulang

Pada akhirnya, kekuatan film seperti “Lobang Buaya” bukan hanya pada pertanyaan siapa pembunuhnya.

Ada pertanyaan lain yang mungkin lebih mengganggu:

Mengapa manusia bisa begitu takut kepada manusia lainnya?

Dan ketika kekuasaan, ketidakadilan serta penindasan masuk ke dalam cerita, horor tidak lagi sepenuhnya berasal dari sesuatu yang berada di luar manusia.

Ia bisa muncul dari keputusan manusia sendiri.

Di situlah Hanung mencoba menempatkan “Lobang Buaya”—sebuah film horor yang menggunakan sejarah sebagai latar, misteri sebagai mesin cerita, dan rasa takut sebagai cara untuk mengajak penonton melihat kembali sisi gelap manusia.

Bukan untuk menggantikan sejarah.

Melainkan untuk membuka kembali percakapan tentang bagaimana sebuah zaman dapat meninggalkan rasa takut yang panjang. (alam)

error: Content is protected !!